Warga Mekarsari Rayakan Imlek Bersama Taruna Merah Putih

Warga Mekarsari Rayakan Imlek Bersama Taruna Merah Putih, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Warga Mekarsari Rayakan Imlek Bersama Taruna Merah Putih, Berita190

Warga Mekarsari Rayakan Imlek Bersama Taruna Merah Putih, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Warga Mekarsari Rayakan Imlek Bersama Taruna Merah Putih, 190, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Warga Mekarsari Rayakan Imlek Bersama Taruna Merah Putih

Ketua DPC Taruna Merah Putih Marinus Gea, SE dan Ketua DPD Partai PDI-Perjuangan Provinsi Banten DR.Ribka Jiptaning merayakan Imlek bersama warga Mekarsari
Ketua DPC Taruna Merah Putih Marinus Gea, SE dan Ketua DPD Partai PDI-Perjuangan Provinsi Banten DR.Ribka Jiptaning merayakan Imlek bersama warga Mekarsari

TRUSTKOTACOM – Perayaan Imlek 2564 merupakan momen untuk memupuk hubungan harmonis dan kokoh. Meski berbeda-beda etnis dan agama, ternyata dalam perayaan Imlek yang digelar Taruna Merah Putih (TMP) bersama warga etnis Tionghoa Mekarsari bisa saling bahu membahu mendukung kegiatan ini.

Demikian diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana Perayaan Imlek TMP, Jacky Hp, di pelataran Klenteng Hok Tek Tjeng Sin, Mekarsari, Neglasari, Kota Tangerang, Sabtu (09/02/2013) malam. Menurut dia, perayaan Imlek tersebut sebagai wujud ungkapan rasa syukur. “Ini sebagai bentuk rasa syukur,” jelasnya.

Perayaan hari raya Imlek 2013 ini dihadiri Plh. Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Banten Ribka Tjiptaning beserta jajarannya, Ketua DPC TMP Kota Tangerang Marinus Gea beserta jajarannya, kader dan simpatisan PDI Perjuangan serta ratusan warga etnis Tionghoa Mekarsari.

Pada kesempatan itu, Ketua DPC TMP Kota Tangerang Marinus Gea menjelaskan terkait UU No: 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi dan Etnis, dan UU No: 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan.

“Tak bias dipungkiri, masih banyak warga etnis Tionghoa yang belum tahu tentang UU No: 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi dan Etnis atau UU No 12/2006. Padahal, dua undang-undang itu erat kaitannya dengan warga Tionghoa,” kata MRG, sapaan akrab Marinus Gea.

Dengan kedua undang-undang ini, lanjut Marinus, hendaknya semua warga Tionghoa memahami bahwa saat ini sudah tidak ada lagi diskriminasi etnis di Indonesia. “Apapun suku dan etnisnya, kita adalah satu kesatuan, yakni Warga Negara Indonesia,” tegasnya.

Sementaraitu, Plh. Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Banten Ribka Tjiptaning mengatakan, segala macam bentuk diskriminasi atas ras atau etnis, harus dilenyapkan dari bumi Indonesia. “Perbedaan ras dan etnis, adalah salah satu kekayaan dari bangsa ini, bukan untuk membeda-bedakan. Undang-undang ini harus diterjemahkan di lapangan, agar negara kita tetap utuh,” ungkap Ketua Komisi IX DPR RI ini.

Ribka Tjiptaning menilai, salah satu cara agar undang-undang ini dipahami diperlukan sosialisasi yang intens. “Dengan sosialisasi tidak akan ada lagi sikap atau perlakuan-perlakuan diskriminasi terhadap warga etnis Tionghoa atau etnis lainnya di Tanah Air,” tandasnya.

Selain itu, Ribka Tjiptaning mengaku bangga selalu hadir merayakan di tengah warga Tionghoa. Bahkan diakuinya, selama 14 tahun etnis Tionghoa merayakan Imlek dia selalu ikut bersama mereka.

“Sudah 14 tahun agama Konghucu resmi di Indonesia, saya juga sering ikut merayakan bersama saudara. Saya begembira dan bersama-sama saudara,” pungkasnya. (Shn)