Unik, Caleg Muda Bergaya Punk

Unik, Caleg Muda Bergaya Punk, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Unik, Caleg Muda Bergaya Punk, Berita360

Unik, Caleg Muda Bergaya Punk, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Unik, Caleg Muda Bergaya Punk, 360, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Unik, Caleg Muda Bergaya Punk

Choky

TRUSTKOTACOM – Nuansa perhelatan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) yang akan digelar pada 09 April 2013 mendatang, nampaknya sudah sangat terasa. Spanduk serta poster para Calon Anggota DPD, DPRD tingkat kota/kabupaten/provinsi maupun DPR RI pun, telah banyak terpampang di jalan-jalan protokol serta pemukiman warga.

Namun ada yang unik dari Eko Maruli Silalahi.SE, salah seorang Calon Legislatif (Caleg) No Urut 7 DPRD Kota Tangerang Dapil 1 Kecamatan Karawaci-Tangerang. Pasalnya, jika pada umumnya seorang caleg selalu berpenampilan rapih dan formal, namun Caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini memiliki penampilan nyentrik ala Punk.

Saat ditemui www.trustkota.com, dalam acara parade musik yang diselenggarakan salah satu Mall yang ada dibilangan Karawaci, Kota Tangerang, beberapa waktu lalu, pria yang akrab disapa Choky ini, menceritakan soal niatnya ikut di laga Pileg dengan penampilannya yang nyentrik itu.

“Ini adalah karakter dan jati diri saya sesungguhnya. Dan perkara pencalonan seseorang adalah hak politik setiap warga negara, kalau saya harus merubah karakter dan jati diri saya cuma untuk mengejar tujuan jadi Dewan, artinya secara tidak langsung saya sudah membohongi diri saya sendiri. Saya bisa saja merubahnya, tapi kalau diri saya saja sudah dibohongi, apalagi dengan masyarakat nanti,selain itu saya ingin memberi inspirasi kepada generasi Muda,apabila bisa dan mampu berkarya untuk orang banyak jangan pernah minder atau rendah diri hanya karena hobi atau penampilan.” kata Choky, Rabu (01/10/2013).

Menurutnya, poin terpenting menjadi seorang wakil rakyat ialah memiliki elektabilitas, kapabilitas serta akuntabilitas yang berkarakter dalam dirinya.

“Karena ada tiga kategori orang menjadi Dewan. Pertama, Dewan yang mencari pekerjaan, kedua Dewan aktualisasi diri biasanya diisi sama orang-orang mapan atau pengusaha dan yang ketiga adalah Dewan Idiologi dimana basisnya adalah basis kinerja. Jadi kita serahkan semuanya ke masyarakat untuk menilai dan menentukan sendiri,” papar Caleg muda bergaya punk itu.

Ditanya apakah penampilannya tidak berbenturan dengan pencalonannya sebagai Caleg DPRD di kota yang memiliki slogan Ahklakul Kharimah ini, Choky mengaku tidak ada hubungannya sama sekali.

“Apakah dengan penampilan seperti ini saya jadi tidak Akhlakul Kharimah. Seperti yang tadi saya bilang, saya sebagai generasi muda harus mempertahankan karakter, seperti pesan Ibu Megawati Soekarnoputri : PDI Perjuangan sangat membutuhkan Kader yang berkarakter, beliau yakin dan percaya Kader yang berkarakterlah yang dapat Berjuang untuk kesejahteraan Rakyat. Bagi saya, mudah saja merubah penampilan, pakai jas mahal sekalipun saya mampu, tapi untuk apa, itu hanya membohongi diri saya sendiri. Sejatinya, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengemban amanah dan aspirasi masyarakat dan bisa menjalankan fungsi legislasi dengan baik,” tukasnya.

Mengomentari soal Money Politik (Politik Uang, red) yang sudah menjadi rahasia umum dalam setiap perhelatan Pileg, Pilkada maupun Pilpres, dengan tegas Choky mengatakan sebagai generasi muda yang dituntut idialisme dan karakter akan merubah paradigma itu di kalangan masyarakat yang masih memiliki pola transaksional untuk lebih sadar menciptakan Dewan yang berkwalitas.

“Sebagai anak muda saya akan merubah paradigma itu dimasyarakat. Karena, kalau suara masyarakat saja sudah kita beli, nanti begitu jadi,rasa tanggungjawab kepada masyarakat akan pudar dikarenakan merasa suara itu telah dibeli. Tapi kalau suara itu benar-benar dari masyarakat, rasa tanggungjawab sebagai dewan akan lebih dituntut dan dikontrol bersama masyarakat dan perasaan malu terhadap masyarakat pasti muncul kalau sampai kita tidak berbuat. Intinya lima Menit untuk lima tahun,” terangnya.

Masih kata Choky, dirinya tidak menamfikan soal adanya respon negatif dari masyarakat terhadap penampilannya.

“Ini ibarat kompetisi, jurinya adalah rakyat, dan masyarakat sekarang sudah pada pintar, mereka juga tahu pilih barang tidak dari bungkusnya, tapi dari isinya, buat apa bungkusnya bagus isinya tidak sesuai dengan bungkusnya,” tukasnya.

Choky menambahkan, hal itu menjadi tantangan bagi dirinya, dalam merubah paradigma dan menjadikan pendidikan politik bagi masyarakat.

“Dalam memilih tetap harus melihat aspek kemampuan dan kualitas intelektual kandidat. Beberapa aspek itu diantaranya seorang dewan harus memiliki, intelektual politik, sehingga bisa peka terhadap perkembangan dan kondisi yang terjadi dimasyarakat, memiliki intelektual akademis, agar bisa menjalankan fungsi legislasi secara rasional dan tepat, memiliki etitude yang baik supaya dapat memberikan contoh berprilaku yang baik dimasyarakat dan yang terakhir adalah memiliki mental yang cukup, fungsinya agar dalam proses perjuangan tidak mudah gentar karna intimidasi dan teror,” pungkasnya. (ges)