Tindak Kejahatan Online Makin Marak

Tindak Kejahatan Online Makin Marak, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Tindak Kejahatan Online Makin Marak, Berita803

Tindak Kejahatan Online Makin Marak, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Tindak Kejahatan Online Makin Marak, 803, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Tindak Kejahatan Online Makin Marak

ilustrasi internet
ilustrasi internet

TRUSTKOTACOM – Tindak kejahatan dalam dunia maya atau yang lebih dikenal dengan sebutan cyber crime pada 2013 diprediksi meningkat. Kejahatan dalam bentuk penipuan online atau dalam dunia perbankan biasa disebut phising diperkirakan akan semakin marak. Mengapa? Berikut laporannya.

Sejalan dengan perkembangan zaman, teknologi internet juga makin maju. Internet adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri.

Pada tahun 1999, jumlah komputer yang telah dihubungkan dengan internet di seluruh dunia mencapai lebih dari 40 juta dan jumlah ini terus bertambah tiap hari.

Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin triliunan, isinya memuat bermacam-macam topik. Tentu saja, situs-situs itu menjadi sumber informasi yang positif sekaligus negatif.

Informasi dikatakan positif apabila bermanfaat untuk penelitian. Namun dikatakan negatif bila pemanfaatan teknologi informasi berujung penipuan.

Jefry Aliando, pemilik Line Art yang merupakan penyedia layanan pengaman internet belum lama ini di Kota Tangsel menyatakan, kejahatan internet makin berkembang, berbagai bentuk penipuan pun telah banyak memakan korban terutama terkait dengan online banking.

Selain mewajibkan perbankan melakukan edukasi kepada nasabah tentang ancaman penipuan online, modus yang kian beragam juga membutuhkan perlindungan peranti lunak yang semakin canggih dan aman.

“Sudah saatnya pihak bank juga terlibat dalam melakukan edukasi terhadap masyarakat. Edukasi tersebut diberikan setidaknya bagi nasabah baru dalam menggunakan fasilitas online banking di bank,” ujarnya.

Siinformasikan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat selama 2011 telah terjadi pelanggaran di dunia maya sebanyak 176 kasus.

Menurut Jefry, pelaku kejahatan di dunia maya tak pernah kehabisan cara untuk menyelinap ke dalam sistem dan melaksanakan aksinya.

Pada awalnya upaya phishing sangat sederhana, hanya dengan mengetikkan informasi yang ingin diperoleh di e-mail lalu kirimkan. Cara tersebut masih memungkinkan untuk dilakukan karena phishing masih terbilang baru dan belum banyak yang tahu dampak dari tindakan tersebut.

Menurut Jefry, phishing di Indonesia marak mencari target nasabah lembaga keuangan, khususnya bank. Dilakukan untuk memperoleh data dan informasi pribadi seperti User ID, PIN, nomor rekening bank, nomor kartu kredit.

Informasi ini kemudian akan dimanfaatkan oleh pelaku penipuan online untuk mengakses rekening, melakukan penipuan kartu kredit atau memandu nasabah untuk melakukan transfer ke rekening tertentu dengan iming-iming hadiah.

Hingga saat ini masih banyak user yang terjebak, dan menjadi korban phishing. Menurut Jefry, edukasi memegang peran penting. Bagi banyak orang, phising dan serangan malware adalah isu baru.

Pada kenyataannya akan makin banyak orang yang akan menggunakan internet sebagai media transaksi keuangan online banking, selain karena efektivitas waktu, biaya, juga karena kenyamanan atau bahkan bank-bank tertentu meniadakan layanan cara lama dalam bertransaksi sehingga topik phishing perlu banyak disebarluaskan.

“Perkiraannya akan makin banyak orang yang akan merubah pola transaksinya dari cara manual menjadi online. Kelompok nasabah tersebut sangat rawan terjebak dan menjadi korban phishing. Perbankan tak bisa menutup mata dan harus memberikan edukasi bagi nasabahnya,” pungkasnya. (Shn)