Sehari LPA Dapat Laporan Pelecehan Seksual Pada Anak

Sehari LPA Dapat Laporan Pelecehan Seksual Pada Anak, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Sehari LPA Dapat Laporan Pelecehan Seksual Pada Anak, Berita874

Sehari LPA Dapat Laporan Pelecehan Seksual Pada Anak, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Sehari LPA Dapat Laporan Pelecehan Seksual Pada Anak, 874, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Sehari LPA Dapat Laporan Pelecehan Seksual Pada Anak

Ilustrasi
Ilustrasi

TRUSTKOTA SERANG – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten menerima empat laporan pengaduan kasus pelecehan seksual pada anak dalam sehari, Senin (5/5/2014). Keempat laporan itu, dua kasus dari Kabupaten Pandeglang, satu kasus dari Kota Serang dan satu kasus dari Kabupaten Serang.

Pengurus LPA Banten Iip Syafrudin, anak-anak yang mendapatkan pelecehan itu berusia antara 2 sampai 6 tahun. Semua laporan tersebut ditindaklanjuti pihaknya.

“Kami tindaklanjuti sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang berlaku. Bagi pelaku yang sudah dewasa bisa dihukum sesuai Undang-undang Perlindungan Anak, sedangkan bagi pelakunya yang masih anak-anak, LPA akan melakukan pendampingan, supaya mereka bisa mendapatkan haknya,” ujar Iip, Rabu (07/05/2014), seperti yang dikutip medibanten.com.

Menurut Iip, pengaduan kasus pelecehan dan kekerasan terhadap anak sejak Januari hingga Mei 2014 sebanyak 22 pengaduan. Dari jumlah itu, baru 4 kasus yang case close atau selesai penangananya.

“Kasus anak tindak kekerasan, baik fisik, psikis maupun seksual, sudah kami dorong penyelesaianya berdasarkan jalur hukum maupun mediasi,” kata dia

LPA Banten menilai kekerasan yang terjadi kepada sejumlah anak-anak ini merupakan fenomena gunung es. Karena diyakininya masih banyak kekerasan terhadap anak yang belum terungkap. “Kasus kekerasan terhadap anak yang kita ketahui jika ada pelaporan, kalau tidak melapor kami belum tentu mengetahuinya,” katanya.

Untuk itu, kata Iip, upaya yang cepat dalam memutus mata rantai kekerasan terhadap anak, Iip menghimbau kepada para orangtua, masyarakat dan pemerintah untuk bisa bersama-sama melakukan langkah-langkah preventif guna mencegah terjadinya pelanggaran dan kekerasan terhadap anak.

Terpisah, Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Akan (UPPA) Polres Serang Juwandi mengatakan pada hari Rabu (30/4/2014) lalu, mendapat dua laporan kasus kekerasan terhadap anak. Untuk kasus pertama yaitu dengan korban berinisial KM (3) dengan pelaku dewasa 1 orang, dan BU (2) dengan pelaku sejumlah 6 orang.

“Untuk enam pelaku tindak kekerasan itu yakni dua diantaranya masih kategori anak-anak. Dan saat ini penanganannya masih dalam proses,” katanya.

Diketahui, beberapa kasus kekerasan dan pelecehan seksual terjadi di beberapa derah di Banten. Di Kabupaten Serang,  seorang siswi SMP berinisial AO (15) warga Carenang, Kabupaten Serang menjadi korban pemerkosaan tujuh pemuda yang sedang dipengaruhi oleh minuman keras.

AO diperkosa secara bergiliran oleh pemuda itu sebelum, AO mengikuti Ujian Nasional (UN). Peristiwa ini terungkap setelah korban melapor dan polisi kini menahan para tersangka pelaku pemerkosaan itu.

Selain itu, di Kabupaten Pandeglang seorang kakek-kakek berusia 69 tahun berinisial SPR memperkosa anak perempuan berusia 6 tahun, Jumat (02/05/2014). SPR memperkosa lantaran tidak tahan menahan nafsu birahinya. Berdasarkan pengakuan SPR, dirinya sudah 10 kali mencabuli gadis kecil itu.

Tidak hanya tindakan kekerasan dan pemerkosaan, di Kota Cilegon juga terdapat kasus anak perempuan berusia 13 tahun yang dipaksa menikah dengan laki-laki parubaya berinisial Sj (50). Sj ditangkap polisi pada Rabu (07/5/2014) setelah dilaporkan oleh keluarga perempuan. (mb)