Ratusan Kura-Kura Gagal Diselendupkan

Ratusan Kura-Kura Gagal Diselendupkan, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ratusan Kura-Kura Gagal Diselendupkan, Berita867

Ratusan Kura-Kura Gagal Diselendupkan, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ratusan Kura-Kura Gagal Diselendupkan, 867, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ratusan Kura-Kura Gagal Diselendupkan

Kura-kura Moncong Babi
Kura-kura Moncong Babi

TRUSTKOTACOM -  Petugas Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan hasil perikanan (BBKIPM) Jakarta I Bandara Soekarno Hatta (Bandara Soetta) berhasil menggagalkan penyeludupan Kura-kura Moncong Babi.

“Fauna dilindungi yang berhasil digagalkan pengirimannya yaitu berupa kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) sebanyak 687 ekor,” dalam keterangan pers tertulis yang dilansir Humas BKIPM, Senin (01/4/2013).

Penahanan itu dilakukan, sesuai konvensi CITTES dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak memenuhi persyaratan.

Awalnya kura-kura moncong babi dikirimkan pada tanggal 15 Maret 2013 dari Papua melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang. Namun karena tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.

“Hewan yang tidak diketahui asal pemiliknya, langsung diamankan di Instalasi Karantina Ikan Balai Besar KIPM Jakarta I, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang,” tulis siaran pers tersebut.

Rencananya Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan akan menyerahkan fauna tersebut kepada Direktorat Jenderal PHKA Kementerian Kehutanan. Selanjutnya pihak kementrian akan melepaskan kura-kura moncong babi ke habitat asli.

Saat ini petugas karantina masih menyelidiki siapa pelaku pengirim barang. Selanjutnya apabila terungkap siapa pelakunya, petugas akan menjerat dengan pasal 31 Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992, dengan ancaman hukumannya adalah pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp 150.000.000. (ges)