Ramadhan Menciptakan Manusia Toleransi

Ramadhan Menciptakan Manusia Toleransi, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ramadhan Menciptakan Manusia Toleransi, Berita121

Ramadhan Menciptakan Manusia Toleransi, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ramadhan Menciptakan Manusia Toleransi, 121, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ramadhan Menciptakan Manusia Toleransi

hmz oke

Oleh : Dr. HM. Harry Mulya Zein MSi (HMZ)

Suatu hari, saya membuka akun situs jejaring sosial Facebook. Tanpa sengaja, saya membaca status yang ditulis seorang kawan. Isi status itu kira-kira seperti ini, “hormatilah orang-orang yang tidak berpuasa.”

Agak nyeleneh memang isi status yang ditulis di akun situs jejaring sosial si kawan tersebut. Sebab, selama ini yang kita kerap mendengarnya, agar masyarakat yang tidak menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan diharuskan menghormati masyarakat yang tengah berpuasa. Spanduk, baligo, hingga iklan di media massa dituliskan “hormatilah orang-orang yang berpuasa.”

Dalam banyak kesempatan tulisan di Mutiara Ramadhan, saya menulis bahwa hakikat berpuasa adalah bukan sekadar tidak makan dan minum mulai azan Subuh hingga azan Magrib. Namun hakikat ibadah puasa adalah untuk mencapai derajat ketaqwaan. Orang yang bertaqwa adalah orang yang imannya senantiasa aktif untuk membentuk diri, sehingga ia tetap istiqamah (konsisten) dalam beribadah, berakhlaq mulia dan terjauh dari segenap dosa dan maksiat.

Berpuasa dengan bersungguh-sungguh atau sekadar ‘basa basi’ sebenarnya bukan persoalan manusia. Sebab, puasa bukan sekadar ibadah ritual yang bisa diukur oleh manusia. Puasa bukan sekadar “ritual kosong”, melainkan bermakna secara spiritual, psikologis, humanis dan sosial.

Karena mendalamnya makna berpuasa itu, sampai-sampai banyak cendekiawan muslim menyebut bahwa ibadah puasa menjadi ibadah yang sangat pribadi. Artinya orang yang berpuasa mempunyai ikatan atau tanggungjawab langsung dengan Allah SWT. Berbeda dengan ibadah ritual lainnya, yang mudah dikenali oleh manusia. Namun orang berpuasa sangat sulit diketahui dari lahiriah dan manusia mengalami kesulitan untuk menilai ibadah puasa.

Pengertian itu menjadi rujukan bahwa menjalankan ibadah puasa berarti bukan sekadar menjalankan ibadah ritual yang harus diketahui manusia. Mengutip tulisan KH Said Aqiel Siradj, Ketua PBNU, kewajiban puasa yang dirujuk oleh dalil naqli, yaitu pada Surah al-Baqarah Ayat 183.

Pada ayat tersebut, yang disebutkan bahwa disebutkan bahwa berpuasa diwajibkan sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumnya (kama kutiba ’ala alladzina minqablikum). Petunjuk dalam ayat ini, di samping tentang hukum wajib puasa Ramadhan, lebih dari itu adalah untuk mengingatkan kembali kepada umat Islam bahwa kewajiban berpuasa mempunyai ”pertalian sejarah” dengan umat sebelumnya.Sejarah membuktikan bahwa setiap peradaban selalu menggenggam perintah bagi
kaumnya untuk berpuasa.

Pada masa jahiliah Arab pra-Islam, orang Quraisy biasa berpuasa pada hari Assyura (Muharam). Umat Yahudi juga rutin menjalankan puasa pada bulan itu. Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad, selalu berpuasa pada bulan Ramadhan. Umat Nasrani dan umat beragama lainnya ataupun kelompok kepercayaan juga punya tradisi berpuasa.

Dari tilikan sejarah ini, yang penting hendak dikemukakan adalah bahwa kebiasaan berpuasa menyimpan makna dan hikmah perlunya kesadaran atas pluralitas. Puasa bukanlah sesuatu yang orisinal berasal dari Islam. Islam sebagai agama penyempurna sekadar memberikan ”sentuhan lain”.

Misalnya, kalau umat Nasrani pada waktu berpuasa melarang menggauli istrinya pada malam hari, Islam membolehkan. Begitu juga bersangkut dengan anjuran sahur.

Itulah, alQuran menambahi dengan kata-kata ”sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumnya”. Jelas hal ini untuk menekankan pada umat Islam pentingnya kesadaran pluralis. Kerendahhatian, saling menghormati, dan kasih sayang menjadi fondasi bagi prosesi puasa.

Pemahaman dan sikap yang rendah hati, saling menghormati dan kasih sayang sangat berarti bagi masyarakat yang tinggal di Kota Tangerang. Seperti kita ketahui, Kota Tangerang merupakan kota yang majemuk. Masyarakat Kota Tangerang tidak hanya beragama Islam, namun juga beragama non Islam. Pemahaman hidup yang rendah hati dan saling menghormati akan berdampak pada harmonisasi kehidupan di Kota Tangerang.

Tentu kita tidak inginkan terjadi disharmonisasi antara warga yang tinggal di Kota Tangerang yang berujung kepada kerusuhan sosial. Kita tidak ingin di Kota Tangerang terjadi konflik horisontal akibat perbedaan keyakinan dan perbedaan pemahaman terhadap nilai-nilai agama. Semoga Ramadhan ini bisa dijadikan momen menciptakan manusia yang bermental toleransi, manusia yang menghargai perbedaan keyakinan. (*)