Ramadhan Bulan Jihad

Ramadhan Bulan Jihad, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ramadhan Bulan Jihad, Berita203

Ramadhan Bulan Jihad, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ramadhan Bulan Jihad, 203, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ramadhan Bulan Jihad

HMZ PECI

Oleh : Dr. HM. Harry Mulya Zein Msi (HMZ)

Hampir setiap siang saya shalat berjamaah Masjid Agung al-Azhom. Hampir setiap hari pula banyak jamaah yang menggeletakkan badannya di serambi masjid. Alih-alih kembali tempat kerja, mayoritas mereka menghabiskan jam-jam produktifnya untuk tidur siang yang panjang.

Tidak hanya di masjid saja, nuansa bermalas-malasan juga terasa ketika di dalam kantor. Hal sama juga ketika pulang ke rumah. Seakan-akan puasa menjadi legitimasi sebagian dari kita untuk mengurangi aktivitas dari 11 bulan lainnya. Pengurangan aktivitas itu tentu saja berujung pada berkurangnya kreativitas.

Jika demikian terjadi maka sungguh disayangkan. Sebab, jika kita membaca literature yang ditulis sejumlah cendekiawan Muslim, dalam sejarahnya banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadhan. Pada era Rasulullah SAW, tercatat pada tanggal 17 Ramadhan kita suci al-Quran diturunkan oleh Allah SWT.

Pada tanggal sama tahun ke-2 hijriah, umat Islam mengalami perang Badar. Perang ini terjadi di gurun pasir yang melibatkan 314 muslimin melawan 1.000-an orang kafir dari Mekkah. Peperangan ini adalah salah tonggak penting dalam sejarah Islam, karena sejak itulah umat Islam memulai era peperangan secara fisik, yang tentunya membutuhkan kemampuan yang lebih berat. Kalau mentalitas mereka seperti umat Islam zaman sekarang yang hobi tidur siang di bulan Ramadhan, tentunya sulit memenangkan peperangan.

Dan kota Mekkah dibebaskan juga pada bulan Ramadhan pada tahun ke-8 hijriah. Rasulullah SAW menyiapkan tidak kurang dari 10 ribu pasukan lengkap dengan senjata yang berjalan dari Madinah dan mengepung kota Makkah. Makkah menyerah tanpa syarat, namun semua diampuni dan dibebaskan.

Setahun berikutnya, peristiwa perang Tabuk juga terjadi di bulan Ramadhan. Perang Tabuk terjadi saat musim paceklik, tapi di sisi lain buah-buahan sudah mulai masak, sehingga sebagian kaum muslimin harus menghadapi tarikan duniawi yang sangat berat. Rasulullah memobilisasi sendiri perang. Kaum muslimin berlomba lomba menafkahkan hartanya. Kedatangan pasukan Islam di Tabuk temyata memunculkan ketakutan luar biasa di kalangan pasukan Romawi. Mereka lari berpencar dan tidak berani melakukan serangan terhadap kaum muslimin.

Pada abad pertengahan atau tahun 15 hijriah terjadi perang perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia (saat ini wilayah Republik Islam Iran) ditumbangkan. Demikiran juga pertama kali Islam menaklukkan Spanyol di bawah pimpinan Thariq bin Ziad dan Musa bin Nushair, juga terjadi di bulan Ramadhan tahun 92 hijriyah. dan sekian banyak kerja keras yang lain, terjadi di bulan Ramadhan.

Untuk konteks Indonesia, sejarah mencatat pada 8 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan 17 Agustus 1945 masehi, bangsa Indonesia memproklamasikan sebagai bangsa yang merdeka dan terbebas dari penjajahan. Sepantasnya memang kita bersyukur 7 Ramadhan lalu juga bertepatan 17 Agustus 2010, bangsa Indonesia memperingati 65 kemerdekaan.

Sepantasnya pula, bulan Ramadhan menjadi bulan untuk berkarya. Sebab, bila dihayati secara mendalam, bulan Ramadhan seperti madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki.

Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah). Ketika seorang yang berpuasa men-tadabbur sebagian siangnya sehingga merasakan haus dan lapar, ia akan menahan diri tidak makan dan tidak melakukan kemunkaran hanya karena perintah Allah. Kondisi ini membuat seseorang merasakan kehadiran Ilahi yang memantau gerak geriknya.

Ramadhan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat. Jika training kaum profesional dewasa ini hanya dilakukan dalam empat hari dan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, maka Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya.

Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah. Karena itu, sepantasnya Ramadhan dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur untuk meningkatkan kreatifitas dan karya. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi.

Karena itu perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan. (*)