PSBB di Kabupaten Tangerang Diperpanjang, Tempat Ibadah boleh Buka

PSBB di Kabupaten Tangerang Diperpanjang, Tempat Ibadah boleh Buka, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, PSBB di Kabupaten Tangerang Diperpanjang, Tempat Ibadah boleh Buka, Berita373

IMG-20200531-WA0012

TRUST TANGERANG – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Tangerang, akan kembali diperpanjang hingga 15 Juni 2020. Namun, dalam penerapanya akan diberikan pelonggaran tempat ibadah.

Sarana ibadah seperti masjid dan tempat ibadah lainnya akan dibuka namun tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Kami sudah membahas dan mendiskusikan untuk penggunaan rumah-rumah ibadah yang ada di Kabupaten Tangerang, sudah berbicara dan diskusi dengan MUI, DMI dan FKUB
secara bertahap terlebih dahulu masjid dan sarana ibadah lain dibuka selama perpanjangan PSBB,” kata Bupati Tangetang Ahmed Zak Iskandar.

Menurutnya, sampai hari ini pun beberapa masjid masih ada yang melakukan sholat Jumat dan sholat berjamaah. Daripada dibiarkan tanpa aturan, lebih baik diizinkan buka dengan aturan yang ketat.

“Yang penting mereka bisa disiplin dan pelaksanaannya diikuti dengan standar protokol kesehatan coronavirus maka akan kami ijinkan,” ucap Zaki.

Begitu juga dengan kegiatan kegiatan beribadah di Gereja, Pura, maupun di Kelenteng dan sarana ibadah lainnya, dan pihaknya akan melakukan simulasi di tempat ibadah tersebut sesuai standar Covid 19.

Lanjut Zaki, untuk pembukaan mall dan pusat-pusat perbelanjaan di luar supermarket ia menyarankan seyogyanya melihat kondisi di daerah Jakarta jangan sampai Banten buka lebih dulu daripada Jakarta.

“Kalau kita bisa buka lebih dulu daripada Jakarta dihawatirkan masyarakat Jakarta melakukan belanja di wilayah Banten terutama wilayah Tangerang Raya karena ini dikhawatirkan terjadi penularan di sana,” katanya.

Mengenai sarana pendidikan Zaki melihat, hasil kajiannya bahwa masih perlu ditutup terlebih dahulu karena proses belajar mengajar di SD maupun SMP bahkan di SMA itu bukan saja hanya proses belajar formal tetapi juga banyak interaksi antar siswa dan di situ yang di khawatirkan terjadi penularan dari siswa-siswa tersebut

“Jadi kami sedang mengkaji apakah sekolah tetap akan belajar di rumah, sementara infrastruktur di sekolah-sekolah ini belum siap kalau infrastruktur sudah siap satu meja untuk 1 orang siswa, artinya kita harus memperlakukan shift,” ungkap Zaki. (hms)

www.trustkota.com
www.trustkota.com