Praktisi Hukum: Bukan Mustahil Kotak Kosong Bisa Dikalahkan

Praktisi Hukum: Bukan Mustahil Kotak Kosong Bisa Dikalahkan, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Praktisi Hukum: Bukan Mustahil Kotak Kosong Bisa Dikalahkan, Berita510

Praktisi Hukum: Bukan Mustahil Kotak Kosong Bisa Dikalahkan, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Praktisi Hukum: Bukan Mustahil Kotak Kosong Bisa Dikalahkan, 510, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Praktisi Hukum: Bukan Mustahil Kotak Kosong Bisa Dikalahkan

Moh Amin, Praktisi Hukum (JD Marhaendra/trustkota.com)
Moh Amin, Praktisi Hukum (JD Marhaendra/trustkota.com)

TRUSTKOTA TANGERANG-  Praktisi Hukum Moh Amin angkat bicara menanggapi fenomena Pilkada di Banten. Ia mengatakan, kotak kosong bisa menjadi ancaman petahana pada pesta demokrasi 2018.

“Bukan mustahil kotak kosong bisa mengalahkan petahana. Baik di Pilkada Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kabupaten Lebak,” ujar Moh Amin, Praktisi Hukum kepada trustkota.com, Jumat (12/1/2018).

Amin menegaskan, calon petahana jangan berleha-leha menghadapi pilkada. Karena kotak kosong tidak bisa diremehkan. Terlebih mengkampaye kotak kosong bukanlah pelanggaran dalam konstitusi.

“Calon tunggal juga harus berjuang karena mereka masih punya lawan yaitu kotak kosong. Jadi perlu diingat calon tunggal tetap harus berkompetisi dengan kotak kosong. Dan masih ada peluang bahwa calon tunggal juga bisa kalah seperti di Pilkada Pati,” tegasnya.

Menurut Amin, KPU dengan anggaran yang ada juga harus mensosialisasikan kotak kosong pada perhelatan Pilkada. Baik KPU Kota Tangerang, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Tangerang.

“Pun Panwaslu, juga harus bekerja terutama dalam mengawasi ASN jangan sampai terlibat dalam pesta demokrasi. Terlebih mensukseskan petahana,” tegasnya.

Lebih lanjut, Amin yang juga Ketua Laskar Merah Putih (LMP) Markas Cabang (Macab) Kabupaten Tangerang ini juga tidak sependapat dengan para tokoh yang berpendapat calon tunggal merupakan matinya kaderisasi kader atau kegagalan Partai Politik (Parpol).

“Justru, jika ada yang tidak sependapat dengan calon petahana berikut programnya. Maka jalan satu-satunya yah pilih kotak kosong saja,” pungkasnya. (joe)