Pemuda dan Pembangunan Bangsa

Dr. HM. Harry Mulya Zein, MSi
Dr. HM. Harry Mulya Zein, MSi

34 tahun silam, di awal Januari 1974, pada sebuah diskusi di Universitas Indonesia, Sutomo (baca: Bung Tomo) pernah mengajukan tiga pertanyaan penting kepada peserta diskusi, yang mayoritas pemuda. Pertanyaan tersebut merefleksikan tingginya kecenderungan pemuda untuk terjun ke panggung politik praktis:

Pertama, apakah bila Anda (pemuda) berhadapan dengan suatu pilihan, memihak kepada kebenaran atau kepada kedudukan yang sedang diduduki atau disediakan bagi Anda, apakah akan tetap memihak kepada kebenaran?

Kedua, apabila Anda disuruh memilih antara kebenaran dengan uang berjuta-juta (suapan untuk membelokkan tujuan mereka membela kebenaran), Anda akan tetap memihak kebenaran?

Ketiga, apakah kalau disuruh memilih antara tetap memegang teguh kebenaran atau melepasnya (setelah diberi kesempatan tidur dengan wanita-wanita cantik sebagai umpan), Anda tetap akan memegang teguh kebenaran? Lalu Bung Tomo mengungkapkan bahwa jawaban ketiga pertanyaan itu tidak perlu diucapkan keras-keras. Cukup dijawab di dalam batin saja.

Pernyataan Bung Tomo pada dasarnya masih relevan jika dikaitkan pada era saat ini. Kita harus akui, pemuda saat ini banyak mengalami permasalahan sosial. Tawuran antar pelajar, tawuran antar mahasiswa, keterlibatan sejumlah pemuda terhadap penyalahgunaan narkotika, aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan organisasi pemuda, hingga prilaku sek bebas kaum pemuda khususnya yang tinggal di perkotaan.

Tentu kita sedih jika mengurai secara rinci permasalah-permasalahan yang dihadapi pemuda. Pemuda yang seharusnya mempersiapkan diri dan mental untuk menjadi pemimpin di masa akan datang, tetapi terjerumus ke dalam permasalahan-permasalahan sosial.
Namun ingat kaum muda, mengeluh keadaan yang menimpa pemuda tidak akan pernah bisa mengubah keadaan.

Mungkin sudah saatnya pemuda bangsa ini, khususnya di Kota Tangerang, terus belajar dan mentransformasikan bagaimana menjadi pemimpin di masa mendatang. Karena pemuda merupakan salah satu pilar penting penentu bangsa. Artinya, pemuda memiliki tanggung jawab yang sama dengan elemen masyarakat lainnya dalam menciptakan kemajuan daerah dan bangsa. Pemuda menjadi tonggak terpenting dalam proses pembangunan bangsa.

Pemuda juga, sebagai agent of social goverment mempunyai tugas mengisi pembangunan dalam menenukan arah bangsa. Citra diri pemuda harus dituangkan dalam beban tanggungjawab yang berakselerasi pembangunan sehingga kesadaraan transformatif itu dapat tercapai samapi titik finish.

Penegasan bahwa pemuda adalah penyandang predikat pembangun, karena pemuda tidak hanya berada dalam kapasitas memperkuat wawasan intelektual. Akan tetapi juga berperan sebagai pemasok infrastruktur perubahan masyarakat dalam agenda-agenda strategisnya.
Pentingnya, proses pembangunan di Indonesia pemuda bersinggungan langsung dengan budaya lokal sehingga akulturasi pemuda mengenal corak masyarakat. Tentu akulturasi pemuda dengan masyarakat melahirkan berbagai bentuk karakter yang toleran, lembut, dan peduli terhadap pembangunan baik lokal maupun nasional.

Karena itu tidak berlebihan jika kita mengatakan generasi pemuda yang hidup hari ini sangat perlu melanjutkan perjuangan para founding father bangsa ini, karena dari merekalah pembangunan dari masa ke masa terus berjalan dan tak terhenti begitu saja. Kemajuan bangsa ini tergantung generasi pemuda yang handal dan ulet bekerja demi bangsa dan negara ini. Pemuda sekarang lebih baik memikirkan Indonesia yang sudah compang camping ini untuk menjadi bangsa pembangun, beradab dan bermartabat.

Ke arah sana, pemuda harus mempersiapkan diri menjadi seorang pemimpin yang transformatif. Pemimpin sekelas Soekarno, Nelson Mandela hingga mungkin juga seperti Barack Husein Obama. Pemimpin muda yang lebih agresif dan berjiwa visioner.

Pemimpin transformatif bukan cuma dibentuk lewat pengalaman, tetapi sejatinya dilahirkan, seperti pepatah “dilahirkan untuk memimpin”. Pemimpin transformatif dikaruniai kharisma sebagai modal diri yang memiliki gagasan yang konkret, seperti yang disimpulkan oleh Bung Karno, yakni Trisakti: bebas-aktif dalam politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan. Ia selalu berada di garis terdepan. Sepanjang hayat dikandung badan, ia berjuang bukan untuk dirinya, melainkan untuk rakyat. Perjuangan itu dijalani melalui pengalaman mengelola organisasi, masyarakat, dan bangsa.

Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya pemuda ini merenungkan kembali pidato Bung Tomo sebagai simbol kepahlawanan:
“Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris….”

“Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia: Hai Inggris, selama banteng-banteng, pemuda-pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan menyerah…. ”
“Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda-pemuda Indonesia, kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak. …”

“Sekarang adalah saatnya kita rebut kemerdekaan kita. Kita bersemboyan: Kita Merdeka atau Mati.” Selamat hari Sumpah Pemuda. ***

Oleh Dr. HM Harry Mulya Zein MSi (HMZ) Sekretaris Daerah Kota Tangerang