Opini ; PKS Unpredictable

Opini ; PKS Unpredictable, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Opini ; PKS Unpredictable, Berita590

Ahmad Chumaedy
Ahmad Chumaedy

Oleh : Ahmad Chumaedy *

Mencengangkan luar biasa hasil hitung cepat pemilu legislatif dari beberapa Lembaga survey yang melakukan quick count dan riil count, hasil hitung cepat bahwa PKS pada pemilu kali ini menjadi partai dengan Raihan suara yang signifikan. Sebab beberapa bulan terakhir PKS di prediksi mengalami “kegalauan elektoral” antara masuk dan tidaknya dalam Parlementary threshold (PT) 4%, pembuktiannya meleset, karena unpredictable PKS dapat diwujudkan pada hasil pileg 2019 kali ini.

Rilis quick count dari beberapa lembaga survey seperti lingkaran survei indonesia (lsi) denny ja yang merilis hasil hitung cepat pileg 2019 dengan data yang masuk 100 persen perolehan suara pks 8,04 persen, indikator politik indonesia merilis hasil quick count pemilihan legislatif (pileg) 2019 pks memperoleh (8,18), csis-cyrus merilis bahwa partai keadilan sejahtera pks meraih 8,1%, charta politica merilis hasil bahwa suara PKS bertengger di angka 8.89%, dan litbang kompas merilis perolehan pks pada pemilu 2019: 8,56 persen, kalau melihat rata-rata hasil lembaga survey bahwa PKS keluar dari zona “kegalauan electoral”.

Hasil ini mematahkan prediksi bahwa Raihan minim suara pada pileg 2019, prediksi partai politik islam kehilangan momentum elektoralnya dan konflik internal partai pasca terbentuknya gerakan arah baru Indonesia (GARBI) dengan smooth praktis dapat di patahkan oleh PKS dan menuai hasil yang “luar biasa”.

Berbenah di tengah konflik

Masa sulit yang membuat PKS “galau” adalah terbentuknya GARBI, kemunculan GARBI yang makin agresif ini diawali dari konflik internal yang terjadi di tubuh partai yang kini dipimpin oleh Sohibul Iman. GARBI yang terkonsolidasi oleh faksi “sejahtera” di PKS seperti anis matta, fahri hamzah dan mahfudz sidiq merupakan ancaman besar, karena bagaimanapun faksi ini melakukan show of force baik di eksternal maupun internal.

Jika merujuk pada gejala perpecahan dan munculnya friksi dalam tubuh PKS, bisa jadi telah terjadi polarisasi hegemoni sosok pimpinan dalam tubuh PKS. Polarisasi ini akhirnya berpotensi memunculkan perbedaan patronase antara kubu Sohibul Iman versus kubu Anis Matta. Asumsi tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan karakteristik PKS selama ini.

Menurut assistant professordi Northern Illinois University, Koike Hamayotsu, PKS adalah partai yang memiliki relasi klientelisme yang baik antara anggota yang memungkinkan mereka secara internal solid.
Kemahiran PKS dalam mengkonstruksi identitas kolektif melalui dakwah dengan memperkuat liqo dan halaqoh dalam konsepsi tarbiyah politiknya memudahkan PKS untuk menjaga kondusifitas dan kesolidan partai tersebut. Namun, pola tersebut sepertinya tidak berlaku di tataran elite PKS.

Dalam konteks perpecahan internal PKS, hal tersebut sejalan dengan pendapat Moshe Maor dalam jurnalnya yang berjudul Intra-Party Determinants of Coalition Bargaining dimana konflik antar partai dibedakan menjadi dua bentuk yakni konflik intra-elite dan konflik elite-pengikut.

Konflik intra-elite di dalam tubuh PKS rupanya tidak menggoyahkan kader partai, intra elite yang bertikaipun tidak ada pilihan politiknya kepada paslon selain Prabowo-sandi, inilah yang menguatkan identitas kepartaian (loyalitas), dan preferensi pilihannya yang sama (kalimatun sawa) terhadap pasangan kandidat tersebut membuat partai ini solid, berbeda jika pilihan politik GARBI kepada paslon lain, kemungkinan akan terjadi volatilitas  (pergeseran pemilih)  elit partai dan kader partai PKS.

Tidak ada yang khawatir melihat potensi konflik internal elite-pengikut tersebut, selama konstruksi politiknya sama, tidak memprovokasi dan membiarkan kadernya memilih partai lain selain PKS, apalagi pilihan dalam melabuhkan ke partai yang secara ideologi dan gerakan memiliki kemiripan dengan PKS tidak ada, maka PKS pada pemilu 2019 cenderung aman walaupun turbulensi kerap terjadi.

Penilaian saya mengacu pada konsepsi O’Donnel dan Schmitter, dalam sistem politik menuju consolidate democracy elite bertikai ini mengutamakan konsep problem solving (pemecahan masalah) dimana management of conflict dapat dilakukan secara efektif. Dari sinilah setiap aktor politik atau konflik-konfiik dasar yang berkembang dapat dilembagakan dan tidak “liar” di jalanan.

Artinya bahwa konflik internal selalu terjadi akan tetapi ketika kepentingan politik yang sama akan menyatukan dan malah menguatkan, itulah yang terjadi dalam tubuh PKS.

Berkah “Ijtima Ulama” Dan Prospek pasca Pemilu 2019

Sedari awal PKS menegaskan bakal mengawal hasil Ijtima Ulama yang di gagas oleh GNPF ulama agar bisa dilaksanakan secara menyeluruh. Sikap PKS dalam mengawal rekomendasi Ijtima Ulama ini menjadi issue sexy untuk mendapatkan simpati publik, apalagi seruan habib rizieq agar FPI bekerjasama dengan PKS untuk memenangkan Prabowo, dan ini berdampak pada berkah electoral buat PKS.

Ada dua hal yang menguatkan PKS mendapatkan berkah electoral pada pilpres 2019, pertama ijtima ulama tidak bisa ditampik oleh PKS, dengan gembar-gembornya mempertahankan rekomendasi ijtima ulama tersebut PKS mendapatkan sokongan terutama dari habib rizieq dengan seruan untuk membela PKS dan membela Prabowo.

Seruan ini setidaknya bergaris lurus dengan espektasi public yang menginginkan Islam menjadi kekuatan politik di tengah polarisasi politik identitas.

Kedua, PKS konsisten dalam 5 tahun terakhir menjadi kekuatan partai oposisi, setidaknya PKS menyuarakan dalam pembelaannya terhadap politik keummatan dan kebangsaan. Ditengah masyarakat yang terpolarisasi tersebut disertai issue sentiment agama yang tinggi. Alhasil public menjatuhkan pilihan politik ke PKS yang cocok dengan 2 hal di atas.

Prospek pasca pemilu menjadi titik tekan yang harus dijadikan rumusan untuk menuai keberkahan pasca pemilu, walaupun hasil quick count pilpres dimenangkan oleh Jokowi, PKS tetap konsisten menjadi kekuatan oposisi yang sistemik untuk menjadikan PKS vis a vis nya pemerintahan Jokowi ma’ruf kedepannya.

Pembuktiannya adalah mempererat kembali kekuatan politik, dengan pelbagai cara yang sudah diterapkan oleh PKS dalam visi misi dan dakwah politik pks kepada kadernya.

Sulit membantah bagaimanapun kader PKS merupakan kader yang loyal terhadap partainya. Selama ini paling tidak ada tiga bentuk keputusan pemilih dalam menentukan partai yang ia pilih atau justru memilih untuk tidak memilih, tolok ukur ini tradisional sifatnya yaitu : (1) party identification; (2) issues of candidate and party; dan (3) candidate’s (party elite’s) personality, style, and performance. Identitas partai atau sering juga disebut loyalis partai, Mereka ini sangat menentukan keberhasilan sebuah partai terutama dalam sistem kepartaian yang telah mapan.

Semakin solid dan stabil sebuah partai semakin mantap pula dukungan loyalis ini pada partai. Sebaliknya semakin kisruh sebuah partai akan berakibat serius terhadap kondisi psikologis para loyalis ini. Jadi, jika sebuah partai berubah warna akibat “perseteruan” di dalam maka secara langsung akan berakibat pula pada tingkat dukungan mereka.

Pertimbangan kedua untuk menen tukan perilaku pemilih dalam sebuah pemilihan adalah kemampuan partai dalam menjual isu-isu di saat kampanye. PKS pada pemilu 2019 kali ini menggunakan issue populis untuk mengaet simpati public dengan issu mengratiskan pajak kendaraan bermotor dan sim seumur hidup, walaupun ini anomali dalam dimensi pendapatan negara, dan keyakinan saya ini hanya bagian dari issu kampanye saja, waluapun faktanya PKS sulit menggiring issue ini di level praksis.

Pertimbangan ketiga adalah penampilan kandidat anggota legislatif (caleg). Di negara-negara maju, pertimbangan inilah yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat. Para caleg ini berlomba-lomba memperbaiki performanya, bukan hanya sekedar program, visi-misi partai saja yang ditampilkan, tetapi dari performa gambar kandidat caleg partai diberbagai tingkatan hanya PKS yang serentak menggunakan uniform yang sama, tidak dengan partai lain yang menggunakan uniform berbeda-beda.

Prospek kedepannya di tahun 2019 ini PKS kedapetan berkahnya. Terlihat bahwa meski dihantam berbagai isu internal dan eksternal, suara mereka tetap kokoh bahkan mengalami kenaikan.

Dalam konteks tersebut, kader yang menjadi modal utama mereka mampu menjaga posisi partai tetap terhormat. PKS harus menjamin keutuhan loyalitas kader dan memberikan penguatan kepada kader dengan cara yang sudah dilakukan pada proses pemilu legislatif kemarin dengan membangun identitas kolektif melalui dakwah, dari sinilah PKS memiliki kesetiaan kolektif yang kuat diantara kadernya.

Ala kulli hal, PKS kedepannya selalu menarik untuk di prediksi dan harus di sadari bahwa “berkah electoral ijtima ulama” menjadi penyumbang suara yang telah di raih PKS, kedepannya ini bukan semata-mata untuk kepentingan amunisi sebagai partai oposisi, tapi juga meneguhkan semangat ijtima ulama dengan kerja riil untuk untuk memperkuat system keummatan dan kebangsaan. (*)

Wallahui a’lam bisshowab

* Penulis adalah Dosen Fisip Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Mahasiswa Doctor Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas).

 

 

www.trustkota.com

Berita Terkait