Ma’ruf Amin Rubah Peta Politik Banten

Ma’ruf Amin Rubah Peta Politik Banten, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Ma’ruf Amin Rubah Peta Politik Banten, Berita372

Subandi Musbah, Aktivis Banten/ist
Subandi Musbah, Aktivis Banten/ist

BANTEN menjadi menarik untuk diperbincangkan, bukan hanya karena daerah kelahiran ulama besar, Prof. DR. KH. Ma`ruf Amin, yang saat ini menjadi salah satu calon wakil presiden 2019. Lebih dari itu, jika ditarik mundur, pemilu 2014, Prabowo Subianto mendapat kemenangan signifikan dengan selisih 14 persen. Sebuah angka yang tidak bisa dianggap remeh.

Tidak heran, jika provinsi ke-28 ini menjadi lumbung terbesar bagi Prabowo pada pilpres lalu. Hasil pleno KPU, sang mantan menantu almarhum Suharto mendapat 3.192.671 atau sama dengan 57,10%. Sedang Jokowi hanya 2.398.631 dengan prosentase sebesar 42,90%. Terpaut jauh. Kekalahan yang luar biasa besar.

Mengacu pada pemilihan presiden 2014, Banten, nampaknya menjadi basis suara pensiunan jendral yang di’berhenti’kan dari ABRI. Tidak heran, jika dalam sebulan, Sandiaga Uno menyambagi lebih dari satu kali. Rupanya, barangkali, pasangan yang didukung koalisi Gerindra, PKS, dan PAN ingin membuka lembaran masa lalu, soal perolehan suara yang sangat menggembirakan. Semacam nostalgia politik.

Babak baru pemilu serentak sudah berjalan, diawali dengan penetapan Jokowi-Ma`ruf Amin sebagai pasangan capres-cawapres nomor urut 01 bersaing dengan Prabowo-Sandiaga Uno. Kehadiran salah satu putra terbaik Banten, tentu merubah peta politik 2019. Hasil beberapa survei menunjukan, bahwa mereka mampu melampaui duet paslon penantang. Baik dari segi popularitas maupun elektabilitas. Kolaborasi mantan walikota Solo dan syuriyah PBNU ini lebih unggul.

Dalam rilis yang dikeluarkan oleh salah satu lembaga survei nasional, Jokowi-Ma`ruf Amin ternyata berada diposisi teratas dengan perolehan 36,31%. Sedangkan Prabowo hanya mendapat 34,63%. Unggul tipis, sekitar 2 digit. Meskipun masih banyak yang menjawab rahasia dan belum menentukan pilihan, setidaknya, kehadiran Ma`ruf Amin mampu merubah keadaan. Jika dibanding pemilu 2014, trend survei suara Jokowi terbukti ada peningkatan.

Keputusan Jokowi memilih orang Banten tentu tidak keliru, selain untuk merubah stigma soal lumbung suara mantan suami Siti Hediati Hariyadi atau Mbak Titik, juga sebagai bukti keberpihakan pada Islam, menjadikan kiyai sebagai pendamping adalah bukti bawah Presiden RI ke-7 ingin membangun bangsa bersama ulama. Bukan sekedar retorika. Ma`ruf Amin tentu akan menjadi magnet bagi kaum nahdliyin, yang suaranya sangat besar.

Beberapa relawan dari Banten, geliatnya sudah mulai terlihat, sebut saja Bintang Sembilan Wali pimpinan KH. Matin Syarkowi, Relawan Abuya Muhtadi (RAM), FOKUS KMA, Relawan Tangerang BerSATU, AKROMA, SAMAWI BANTEN, dan Simpang Jomin. Mereka mulai mendatangi pimpinan pondok pesantren, santri salaf, jawara, tokoh pemuda, dan pimpinan majlis ta`lim. Disamping masih banyak tim yang bergerak lebih awal.

Kerja-kerja politik relawan, menurut informasi yang penulis terima, akan mulai optimal pada awal 2019, tepatnya bulan januari dan februari, mereka fokus di Banten dengan melakukan canvassing dan temu tokoh. Tentu ini akan menjadi semacam tambahan gizi bagi elektabilitas pasangan nomor urut 01. Jika hasil survei yang rilis pada desember, Jokowi-Ma`ruf Amin unggul tipis, setelah semua elemen begerak, saya kira akan berubah, bisa diatas 10%.

KH. Ma`ruf Amin bukan hanya simbol bagi orang Banten dan NU, jauh dari itu, beliau merupakan refresentasi suara yang mewakili daerah paling barat di pulau jawa dan jamaah nahdliyin. Santri sarungan, kiyai salaf, jawara Banten, dan generasi milenial tentu memiliki kebanggaan tersendiri, bahwa tidak jauh dari kampung halamannya, terdapat seorang ulama sekaligus calon wakil presiden. Sesuai dengan pernyataan: wong Banten milih wong Banten. Artinya, orang Banten memilih Ma`ruf Amin.

Kehadiran Ma`ruf Amin sudah terbukti mengangkat elektabilitas kandidat petahana, ini terlihat dari beberapa ekspouse hasil riset. Belum gerakan masif para relawan. Walau terlihat senyap, strategi Ma`ruf Amin nampaknya tidak bisa dianggap remeh, sebagai bukti, pertengahan desember, seluruh kiyai se-Banten bertemu dan menyatakan sikap: siap bergerak. Baik NU struktur maupun kultur akan mulai memainkan peran.

Hal ini tidak dimiliki Sandiaga Uno, sang pengusaha muda yang tidak menyelesaikan tugas sebagai wakil gubernur DKI ini tentu akan sulit mendekati ulama, ada semacam sekat besar yang tidak bisa ditembus. Padahal tokoh agama adalah salah satu figur yang mampu menggerakan voters untuk menaikan elektabilitas. Kesulitan itu, barangkali akan dibayar mahal dengan terjun bebasnya hasil survei.

Pandangan bahwa Ma’ruf Amin tidak mampu menambah pundi-pundi suara, saya kira keliru, sebaran warga NU yang begitu merata diseluruh Indonesia salah satu alasannya. Membedah peta elektabilitas tidak cukup dengan membuka file hari ini. Selain itu, Banten belum tergarap secara optimal, masih ada waktu sekitar 3 bulan lebih. Menjadi lebih menyakitkan bagi lawan, jika para kiyai dan santri bergerak serentak. Sebuah gerakan civil society yang sulit terbendung.

Sampai hari ini, rekam jejak Ma’ruf Amin belum terdistribusikan sepenuhnya, program door to door campaigne adalah jawaban kongkrit bagi yang masih meragukan. Perlahan tapi pasti, ketokohan putra Abuya Amin Koper ini akan meradang, bisa jadi membuat panik tetangga sebelah. Gejalanya sudah terlihat, masa Indonesia dibilang akan punah.

Bahayanya lagi, Sandi beberapa kali melakukan blunder, sebuah kesalahan serius dan sulit dimaafkan. Dua bulan terahir, jejak digital memberikan pesan bahwa, cawapres yang satu ini menyisakan beberapa persoalan. Sedang Ma`ruf Amin merupakan seorang kiyai yang sudah teruji dan piawai dalam komunikasi dan membangun hubungan interpersonal.

Satu-satunya yang tersisa bagi mantan ketua HIPMI adalah generasi milenial, itupun tidak mudah digarap. seseorang yang pernah melangkahi makam salah-satu pendiri NU, akan sulit mendapat simpati dari kalangan pemilih pemula. Sandiaga sampai saat ini terlihat bekerja bukan untuk 2019, dia sedang “menabung” untuk pilpres selanjutnya. Sedang Ma`ruf Amin adalah tokoh panutan generasi milenial yang menginginkan negeri ini semakin maju. Hari ini, bukan 2024. (*)
*Penulis Subandi Musbah, Alumni Sekolah Demokrasi, Pendiri Visi Nusantara