Guru Mengeluh, Tunjangannya di Potong UPTD

Guru Mengeluh, Tunjangannya di Potong UPTD, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Guru Mengeluh, Tunjangannya di Potong UPTD, Berita250

Guru Mengeluh, Tunjangannya di Potong UPTD, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Guru Mengeluh, Tunjangannya di Potong UPTD, 250, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Guru Mengeluh, Tunjangannya di Potong UPTD

Ilustrasi
Ilustrasi

TRUSTKOTACOM РSejumlah guru Honorer mengeluhkan pemotongan uang tunjangan fungsional guru honorer yang dilakukan oleh UPTD  Pendidikan Kecamatan Tiga Raksa, Kabupaten Tangerang.

” Dari uang tunjangan fungsional sebesar Rp 3,4 juta yang diterima setiap guru, kami diminta menyetorkan uang kerjasama antar UPTD Tigaraksa dan pengawas sebesar Rp300 ribu,” kata salah seorang guru honorer yang mengajar di SD Tapos, Tigaraksa, Rabu (06/02/2013).

Sumber TrustKota.com yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan, pemotongan uang tersebut dilakukan pada Selasa (05/02/2013). Pada saat itu, Kepala UPTD Kecamatan Tiga Raksa, Rakinan mengajak 76 guru honorer untuk berunding di kantor UPTD pendidikan Kecamatan Tigaraksa. Dari hasil rapat perundingan, lanjut guru tersebut, pihaknya menyapakati untuk menyetorkan dana sebesar Rp100 ribu per guru.

” Dalam perundingan tersebut tiba-tiba Kasubag UPT Tigaraksa Bukhori mematok penyetoran sebesar Rp300 ribu, dengan alasan agar sama dengan tahun sebelumnya,” katanya.

Lebih lanjut Ia menuturkan sangat keberatan dengan adanya pungli tersebut. ” Uang tunjangan fungsional tahunan itu sangat berarti bagi para guru honorer. Kami merasa kecewa dengan adanya pungutan tersebut,” cetusnya

Kekecewaan serupa juga di ungkapkan oleh Warta, salah satu orang tua guru yang juga menjabat sebagai pengawas TK/SD.

” Saya mengetahui guru honorer tersebut dikumpulkan, sebab anak saya juga ikut kumpul,” kataya.

Kata Warta, ia sempat mempertanyakan pungutan tersebut, akan tetapi tidak pernah diindahkan.

” Saya ini asli orang Tigaraksa, jadi enggak elok kalau jeruk makan jeruk,” katanya.

Mungkin karena dianggap vokal, kata Warta dirinya didepak dari pengawas yang tadinya bertugas di Tigaksa. “Pasca itu saya langsung dipindahkan ke Kecamatan Cisoka,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala UPTD pendidikan Kecamatan Tigaraksa Rakinan mengakui jika pihaknya menerima setoran dari puluhan guru honorer, tapi ia menampik kalau pihaknya yang melakukan pungutan tersebut.

“Itu inisiatif mereka sendiri, masa iya saya menolak jika dikasih uang,” kilahnya.

Menurut Rakinan, dirinya tak pernah mematok jumlah uang yang harus disetorkan ke pihaknya. “Kalau dikasih ya diambil, mau Rp100 rubu, Rp50 ribu, enggak juga enggak apa-apa, toh itu mereka yang kasih,” katanya.

Ditempat terpisah, Sekjen LSM Biak (Barisan Independent Anti Korupsi) Rafik MS menyayangkan adanya dugaan pungli yang dilakukan UPTD pendidikan Kecamatan Tigaraksa.

“Tidak dibenarkan pungutan tersebut. Kami akan mendesak Dindik Kabupaten Tangerang agar mencopot Ketua UPTD dari jabatanya. Selain itu, kami juga akan melaporkan Ketua UPTD pendidikan ke Kejaksaan¬† Tigaraksa,” tegas Rafik. (703/cun)

HipnoGasm 250 x 250

Berita Terkait