Cabuli Santri, Pimpinan Ponpes di Lebak Dipolisikan

Cabuli Santri, Pimpinan Ponpes di Lebak Dipolisikan, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Cabuli Santri, Pimpinan Ponpes di Lebak Dipolisikan, Berita508

Cabuli Santri, Pimpinan Ponpes di Lebak Dipolisikan, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Cabuli Santri, Pimpinan Ponpes di Lebak Dipolisikan, 508, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Cabuli Santri, Pimpinan Ponpes di Lebak Dipolisikan

Ilustrasi
Ilustrasi

LEBAK,TRUSTKOTA- Pencabulan terhadap anak dibawah umur kemabli terjadi di Lebak, Kali ini pencabulan dilakukan oleh Ustadz Asep Jarkasih, pimpinan pondok pesantren ‘Sulumul Putuhat’ yang beralamat di Desa Buyut Mekar, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Banten, diadukan ke polisi oleh mantan santrinya (MY) (15), warga Kp Kadang Sapi, Desa/Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten.

(MY) mengaku sudah lima kali dicabuli oleh ustadz tersebut, saat korban masih menjadi santri di ponpes pimpinan Ustadz Asep Jarkasih tersebut. (MY) yang didamping oleh pamannya Romli Selasa (15/4), menceritakan kejadian yang membuatnya harus angkat kaki dari ponpes tersebut. Korban mengaku sudah tidak tahan melayani nafsu bejad ustadz itu, sehingga dia memilih keluar dari ponpes dan pulang ke kediaman orangtuanya.

Menurut (MY), sekitar pertengahan  bulan Oktober 2013 saat dia belajar mengaji,tiba tiba dipanggil oleh seorang santri lainnya bernama Surni, untuk mengahadap ustadz yang biasa dipanggil si akang ke kediaman si akang yang tak jauh dari ponpes. Kepada korban, ustadz muda ini menawarkan kepada Maryam doa -doa untuk memudahkan segala kesulitan, dan saat itu korban disuruh minum air putih yang diakui sudah “diisi” oleh ustad bejad ini.

”Waktu itu neng minum air yang sudah dikasih jampe -jampe dan yang katanya sudah diisi oleh akang,” ungkapnya, Selasa (14/4:2015)‎

Tidak sampai disitu,korban juga disuruh membuka seluruh pakainnya, agar jampe yang diberikan bisa langsung menyatu dalam tubuh korban. Saat itulah, si akang langsung menggerayangi payudara dan alat vital korban, hingga akhirnya korban digagahi di sofa ruangan tamu rumah pelaku yang sepi.

“Waktu neng diantar oleh Surni ke rumah akang, oleh akang Surni disuruh ngaji lagi ke ponpes dan neng tinggal cuma berdua dengan akang dirumahnya,” ungkap (MY) yang saat itu baru berusia 13 tahun.

Setelah kejadian pertama, si akang selalu memanggil korban untuk datang ke kediamannya saat istrinya sedang tidak berada di rumah. Seingat korban, dirinya terakhir kali digagahi di kamar anak si akang tanggal 11 Januari 2015

. “Seingat neng, ada lima kali akang gituin neng dan terakhir tanggal 11 Januari 2015 mau Magriban di kamar anaknya si akang,” tuturnya polos.

Karena tidak tahan menjadi budak seks ustadz ini, Maryam lalu menceritakan kejadian tersebut ke Surni ke temanya yang juga seorang santri lainnya, dan Surni pun mengaku pernah dilecehan oleh si akang,

” Kalau Surni hanya buah dadanya saja yang digigit dan diremas oleh si akang,” Tuturnya.‎

Mengalami nasib sama, kedua santri itu memilih kabur dan pulang ke kediamannya di Cikande dan langsung menceritakan kejadian tersebut kepada keluarganya.

Tak terima atas perlakuan cabul ustadz ini, keluarga korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Lebak tanggal 22 Januari 2015, namun sampai kini kasus tersebut mangkrak di Polres Lebak dan konon sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kami pihak keluarga melaporkan kasus ini ke Mapolres Lebak tanggal 22 Januari, namun sampai sekarang tidak ada kelanjutannya dan kami belum pernah menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan,” tegas Romli seraya meminta kepada kepolisian untuk mengusut kasus ini sampai tuntas.

Seorang petugas piket SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polres Lebak, Iptu Redy Yazid yang dikonfirmasi, membenarkan pihaknya pernah menerima laporan pencabulan yang diduga dilakukan oleh ustadz Asep Jarkasih dan kasusnya sudah ditangani oleh unit PPA (Pusat Pelayanan Anak) Polres Lebak.

“Memang kami pernah menerma laporan dugaan pecabulan oleh ustadz Asep Jarkasih, namun kasusnya sudah dilimpahkan ke unit PPA,” jelas Iptu Redy kepada Banten Pos‎

Namun saat kasus ini dikonfirmasi ke unit PPA Polres Lebak, tak satupun petugas yang mau memberikan keterangan,” bu kanit nya lagi istirahat,” ujar seorang petugas jaga.

Sementara ustadz Asep Jarkasih yang dikonfirmasi ke ponpesnya sedang tidak berada di tempat. Demikian juga, ponselnya ketika dihubungi juga tidak diangkat dan SMS yang dikirim tidak direspon. Namun adik ipar tersangka bernama Riyah, mengaku  tidak percaya apa yang dituduhkan korban kepada kakak iparnya,

” Saya tidak percaya kakak ipar saya melakukan itu, karena dia orang baik,” Kilahnya. (Riz)