Bisnis di Pusat Perbelanjaan di Jabodetabek Mulai Menggeliat

Bisnis di Pusat Perbelanjaan di Jabodetabek Mulai Menggeliat, www.trustkota.com, Dari Banten untuk Indonesia, Portal Berita, Surat Kabar, Media Online, Bisnis di Pusat Perbelanjaan di Jabodetabek Mulai Menggeliat, Berita701

IMG-20200711-WA0012

TRUST JABODETABEK – Bisnis di pusat perbelanjaan di Jabodetabek mulai bergeliat, sekalipun belum berjalan secara normal namun kondisinya sudah mulai membaik pasca covid 19. Protokol kesehatan, menjadi salah satu prosedur kesehatan yang mesti di lakukan oleh pengelola Mall. Lantas bagaimana strategi bisnis para pengelolanya.

Laporan Ahmad Soleh wartawan trustkota.com

Dari hasil riset yang di sampaikan oleh Collier Internasional bahwa saat ini total pasokan ritel yang ada di Jabodetabek berjumlah 4,8juta m2. Dimana sekitar 70% nya adalah mall atau pusat belanja sewa.

Besarnya pasokan ritel yang ada di Jabodetabek memang masih akan bertambah. Setidaknya hingga tahun 2024 ada sekitar 1 juta m2 jumlah pasok baru ritel yang ada, dimana sekitar 60% berada di luar Jakarta.

Dari kondisi diatas kita bisa melihat bahwa penyebaran bisnis ritel pada akhirnya memang akan merambah di luar Jakarta. Ada beberapa hal yang membuat hal ini terjadi.

Ferry Salanto, Associate Director Collier International menjelaskan, Harga tarif sewa mall di Jakarta berada pada kisaran angka Rp 500-600 ribu/m2/ bulan. Sementara untuk kondisi di Bodetabek berada pada kisaran Rp 400 ribu / m2/ bulan. Kondisi ini terjadi salah satunya karena bisnis mall terkena dampak cukup serius akibat covi-19.

“Pengelola akan banyak menawarkan insentif sewa untuk menarik penyewa seperti penundaan/ pembebasan bayar sewa atau memberikan harga yang lebih kompetitif,” kata Ferry, kemarin.

Lanjut Ferry, kondisi yang terjadi di Jabodetabek tidak jauh berbeda dengan kondisi yang ada di luar Jabodetabek. Dari pengamatan dan kondisi yang ada di Surabaya, sebagai salah satu lokasi yang juga cukup tinggi perkembangan bisnis ritelnya kondisinya tidak jauh beda.

“Dari jumlah ritel atau mall yang ada di Surabaya jika dibandingkan dengan kondisi yang ada di Jakarta hanya 25%nya saja. Dari total yang ada di Surabaya saat ini yaitu 1,1juta m2 sebanyak 70% adalah mall sewa,” terang Ferry.

Ferry Salanto menjelaskan terkait tingkat harga sewa dan dan tingkat hunian yang ada di Mall- Mall Surabaya cukup unik. Jika dari HI 2020 kondisi kondisi tingkat hunian akan cenderung turun hingga H2 2020 berada di posisi dibawah Rp 480 ribu.

Namun kondisinya akan cenderung naik hingga mencapai angka Rp490 ribu pada H2 2021. Berbeda dengan tarif sewanya, justru dari HI2020 akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai Rp490 ribu pada H2 2021.

“Jika kondisi harga sewa dan tingkat huniannya tidak banyak begerak. Justru yang menarik ketika kita melihat tren yang terjadi pada bisnis ritel pasca covid 19 adalah perubahan yang cukup signifikan dari para pebisnis ritel khususnya yang saat ini mereka berada di sektor ritel modern,” bebernya.

Ada Perubahan Strategi Bisnis

Sementara itu, Bambang Laskito, SEO & Digital Marketing Strategi Barantum, mengatakan, ada perubahan strategi bisnis yang akan di jalankan pebisnis ritel yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

“Konsep lama yang lebih banyak terkonsentrasi pada penjualan konvensional di ubah menjadi penjualan yang akan memaksimalkan teknologi atau istilahnya model transaksi online akan menjadi target pemasaran produknya,” katanya.

Menurut Bambang, konsep pemasaran ritel dan mall modern setelah covid 19 akan menjadi tren baru bagi pebisnis ritel yang ada di Jakarta dan sekitarnya dan mungkin berkembang ke berbagai daerah.

“Ada tiga konsep yang dilakukan pelaky bisnis ritel saat ini yakni promosi dan pemasaran yang di jalankan dengan model pemasaran Offline to Online, model pemasaran online Virtual Shop dan model pemasaran Online to Offline, ” ungkapnya.

Tambah Bambang, kenapa model seperti kedepan menjadi strategi yang akan di jalankan oleh pelaku bisnis ritel di tanah air. Selama masa covid19, masyarakat sulit untuk keluar rumah, maka model transaksi online atau e-commerce menjadi pilihan menarik bagi consumen.

Menurut Bank Indonesia sendiri, selama tahun 2019 dari jumlah transaksi di 14 e-commerce terbesar yang ada di Indonesia nilainya mencapai Rp 265,07 triliun sepanjang tahun 2019.

” Ada peningkatan yang cukup signifikan dari model transaksi e-commerce itu sendiri di Indonesia. Pada tahun 2017 angkanya baru mencapai Rp80,82 triliun sementara di tahun 2018 naik menjadi Rp145,95 triliun. Itulah yang pada akhirnya menjadi dasar kenapa setelah covid 19 pelaku bisnis ritel akan lebih memaksimalkan model penjualannya dengan model transaksi online,” kata Bambang.

Dengan adanya covi19, pada akhirnya memang akan terjadi tren perubahan perilaku, tidak saja bagi pelaku industri yang saat ini bekerja dan berprofesi di industri mall/ pusat belanja Tetapi bagi pera consumen pun akan mengalami perubahan perilaku terhadap tanggapan mereka dengan keberadaan mall/ pusat belanja.

Untuk consumen terjadinya perubahan perilaku itu sendiri bisa di dasarkan pada beberapa hal diantaranya, mereka masih merasa belum aman dan nyaman ketika berada di mall/ pusat belanja karena adanya beberapa protokol kesehatan dan masih dimungkinkannya penyebaran karena areal berkumpulnya banyak orang.

Andaipun mereka ke mall/ pusat belanja, maka consumen akan lebih banyak ke areal foodcourt sekedar untuk membeli makanan trus pulang. Sedangkan untuk produk lainnya mereka masih asik dengan model belanja online.

Tetapi pada intinya consumen atau masyarakat masih ingin berkunjung ke mall/ pusat belanja karena bisa memberikan pengalaman belanja yang berbeda. (*)

 

 

www.trustkota.com